Anggunnya dirimu berhias bulu-bulu indah
Paruhmu yang besar tanda engkau memang gagah
Dulu … di setiap waktu engkau terbang di atas kampung kami
Engkau hinggap di atas pohon yang berdiri kokoh di pinggir sungai
Mata besar, menyorot tajam, menatap penuh amarahmu
Kami memang jahat, telah merampas seluruh habitatmu
Kami memang bejat, telah memutus rantai makananmu
Kami yang tak tahu diri ini telah mengancam hidupmu
Di mana lagi suara menggelegar menembus angkasa
Di mana lagi sorotan mata tajam yang selalu mengawasi dari sana
Di mana lagi pantulan sinar kemilau dari bulu indahmu
Di mana lagi, kegagahan dan kenggungan itu.
Hari ini kami menyesal telah membiarkanmu hidup dalam
penderitaan
Kami menyesal telah memburu dan membuatmu ketakutan
Kami menyesal telah kehilangan harta angkasa kami ini
Kami menyesal … kami … menyesal … wahai enggang kembalilah
kembali …
Kami tidak akan memburumu lagi
Kami tidak akan menangkapmu lagi
Kami tidak akan merusak habitatmu lagi
Kami sadar … kami menyesali …
Namun, semua sudah terlambat
Kami tahu engkau tidak lagi terpikat
Engkau tidak akan datang
Engkau tidak akan pulang
Enggang … maafkanlah kami …
Kami salah … kami egois … kami tak peduli …
